Saya menukil sebuah penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin, dalam terjemahan buku/kitab “Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu” yang merupakan terjemahan dari kitab syarh Hilyah Thaalibil ‘ilmi yang di terbitkan Pustaka Imam As-Syafi’i berikut:
Perkataan beliau (Syaikh Abu Bakar Abu Zaid) selanjutnya: “Jangan lemah semangat dalam menuntut ilmu sampai meninggal dunia.” Ini benar, seorang pelajar wajib tidak lemah, karena jika dia membiasakan diri untuk lemah dan malas, maka dia akan terbiasa melakukannya. Barangsiapa yang mencari kemuliaan, maka dia harus sering begadang malam. Berikanlah semua yang engkau miliki untuk mendapatkan ilmu, tapi ilmu itu hanya akan memberikan kepadamu sebagiannya saja, namun jika engkau hanya memberikan sebagian yang engkau miliki niscaya engkau tidak akan mendapatkan apa – apa. Ilmu itu butuh rasa letih dan capek. Namun ada satu yang saya katakan kepada kalian: “Seseorang jika tumbuh berkembang dalam dunia ilmu maka akan mudah baginya untuk mengetahui banyak hal yang kadang – kadang tidak di temukan di dalam kitab, terutama sekali jika niatnya ikhlash dan ingin mendapatkan kebenaran dalam syari’at Allah. Allah Ta’ala akan menganugrahkan ilmu kepadanya yang tak pernah terlintas di benaknya, juga tidak terdapat pada lembaran – lembaran kitab. Seringkali seseorang mencari sebuah permasalahan dalam literatur kita yang kira – kira membahasnya, namun ternyata tidak ada, kemudian dia memikirkan salah satu ayat atau hadist Rosulullah tiba – tiba dia mendapatkan jawabannya, karena barakah al-Quran dan as-Sunnah memang tiada bandingannya.”
ini merupakan nasihat yang sangat berharga bagi saya, setelah mendapat beberapa musibah, ternyata saya tidak cukup kuat sehingga seakan kehilangan arah dalam menuntut ilmu. dahulu waktu smp, bagi saya adalah suatu hal yang wajar untuk belajar sampai tengah malam, menghafal berbagai kitab, berdiskusi dan memimpin diskusi dengan para sahabat dengan di pandu ustadz, membuat terjemahan dari kitab – kitab secara mandiri untuk dipelajari sendiri maupun diajarkan. kemudian saat sma, setelah saya mengingatnya kembali, sebenarnya merupakan awal saya kehilangan fokus dalam berjuang, dengan izin Allah saya diberi kemudahan dalam belajar saat sma, tapi saya lupa, bahwa saya mendapat ujian dengan kehilangan lingkungan yang telah bersama saya sampai smp.
kini saat kuliah saya semakin sadar, saya telah begitu banyak menyiakan waktu, tidak memberikan segala yang saya miliki untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak, dan meskipun seakan sekarang sudah agak terlambat, tapi saya yakin saya masih punya kesempatan dan kinilah saatnya untuk meng’azzamkan diri untuk berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan ilmu beserta memurnikan niat dan keikhlasan. semoga Allah SWT menganugrahkan rasa tawadhu’ baik dalam menerima kebenaran maupun terhadap sesama makhluk kepada saya. dan akhirnya kini saatnya untuk memberikan semua yang saya miliki untuk mendapatkan ilmu.
~Wallaahul Mustaan.
[terimakasih untuk sahabat saya Arif]



