{Hakim}

Dream Runner

Arsip untuk Januari 28th, 2009

Jalan Cinta Para Pejuang

Ditulis oleh Muhammad Hakim di/pada 28 Januari 2009 5:20 pm

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..[Sumber: Jalan Cinta Para Pejuang - Salim A. Fillah]

nah, sobat bagaimana menurutmu, kalau kita dalam posisi sebagai Salman ?
sanggupkah kita melakukan hal yang sama sebagaimana Salman lakukan kepada sahabatnya Abu Darda’, mungkin berat, dan mungkin juga sakit pada awalnya, tapi saya ingin mengatakan, saya juga insya Allah siap menyerahkan mahar yang telah saya siapkan, untuk seorang sahabat saya, sebagaimana Salman melakukannya kepada Abu Darda’, karena inilah jalan cintaku, jalan cinta para pejuang.

Ditulis dalam Islam, Keluarga, Romantika | 1 Komentar »

Ganti Hati

Ditulis oleh Muhammad Hakim di/pada 28 Januari 2009 6:16 am

Alhamdulillah sudah ganti hati, eh sudah menyelesaikan membaca kisahnya pak Dahlan Iskan dalam Buku Ganti Hati.


bagi yang ingin membaca via web ada di blognya beliau. saya pertama kali tahu kisahnya sewaktu melihat wawancara beliau di Kick Andy, dan kemudian membaca blog tersebut, dan alhamdulillah semalam bisa membaca bukunya. bedanya dibukunya lebih detil, dan ada gambar liver beliau yang sudah rusak :P , selain gambar – gambar beliau pra dan pasca operasi transplantasi liver di Tiongkok.

Buku yang sangat menarik, baik dari segi gaya bahasanya (mengingat beliau adalah wartawan), maupun isinya. isinya seputar proses transplantasi liver yang beliau jalani, dan tentu saja juga tentang sebagian kisah hidup beliau, tentang kerja keras, tentang kecerobohan dalam menjaga kesehatan, tentang hepatitis B, dan juga sempat menyinggung tentang kasus meninggalnya cendikiawan Nurcholis Majid akibat kegagalan transplantasi liver yang mengakibatkan wajah beliau menghitam saat meninggal (merupakan penjelasan medis atas tuduhan orang yang mencap ruh beliau di tolak Allah) dan membandingkannya dengan wajah – wajah tokoh komunis yang telah meninggal. separuh bukunya lagi berisi foto – foto dan penjelasan tentang dokter, perawat, dan rumah sakit tempat beliau menjalani operasi. serta e-mail dan sms yang dialamatkan ke beliau beserta jawabannya.

Ditulis dalam Coretan | Leave a Comment »