{Hakim}

Dream Runner

Arsip untuk ‘Hadist’ Kategori

Kumpulan hadist dan ahli hadist

Mensyukuri datangnya Dzulhijjah

Ditulis oleh Muhammad Hakim di/pada 18 November 2009 1:18 am

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ.

“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.”[1]

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan beramal shaleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, Imam an-Nawawi dalam kitab beliau Riyadhush Shalihin[2] mencantumkan hadits ini pada bab: Keutamaan ibadah puasa dan (ibadah-ibadah) lainnya pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:

Allah melebihkan keutamaan zaman/waktu tertentu di atas zaman/waktu lainnya, dan Dia mensyariatkan padanya ibadah dan amal shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya[3].
Karena besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, Allah Ta’ala sampai bersumpah dengannya dalam firman-Nya: وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Dan demi malam yang sepuluh.” (Qs. al-Fajr: 2). Yaitu: sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab[4], [serta menjadi pendapat mayoritas ulama].
Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”[5]
Amal shaleh dalam hadits ini bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dan sebagainya.[6]
Termasuk amal shaleh yang paling dianjurkan pada waktu ini adalah berpuasa pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah)[7], bagi yang tidak sedang melakukan ibadah haji[8], karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa pada hari ‘arafah, beliau bersabda, أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ “Aku berharap kepada Allah puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu dan tahun berikutnya.”[9]
Khusus untuk puasa, ada larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukannya pada tanggal 10 Dzulhijjah[10], maka ini termasuk pengecualian.
Dalam hadits ini juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa berjihad di jalan Allah Ta’ala adalah termasuk amal yang paling utama[11].
***

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.
Artikel www.muslim.or.id

[1] HSR al-Bukhari (no. 926), Abu Dawud (no. 2438), at-Tirmidzi (no. 757) dan Ibnu Majah (no. 1727), dan ini lafazh Abu Dawud.
[2] 2/382- Bahjatun Naazhirin.
[3] Lihat keterangan Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Latha-iful Ma’aarif (hal. 19-20).
[4] Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/651) dan Latha-iful Ma’aarif (hal. 20).
[5] Fathul Baari (2/460).
[6] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam Syarhu Riyadhis Shalihin (3/411).
[7] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam as-Syarhul Mumti’ (3/102).
[8] Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa pada hari itu ketika melakukan ibadah haji, sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1887) dan Muslim (no. 123). Lihat kitab Zaadul Ma’ad (2/73).
[9] HSR Muslim (no. 1162).
[10] Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1889) dan Muslim (no. 1137).
[11] Lihat Syarhu Riyadhis Shalihin (3/411).

sumber: http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-amal-shaleh-pada-sepuluh-hari-di-awal-bulan-dzulhijjah.html

Ditulis dalam Hadist, Islam | 1 Komentar »

Hidup & Mati, Cinta dan Perpisahan, Perbuatan dan Balasan

Ditulis oleh Muhammad Hakim di/pada 19 Oktober 2009 1:11 am

وروي أن جبريل عليه السلام جاء النبي صلى الله عليه وسلم فقال: “يا محمد .. عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب من شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك مجزى به، واعلم أن شرف المؤمن قيامه بالليل، وعزه استغناؤه عن الناس.” رواه الحاكم في المستدرك

Diriwayatkan, bahwa Jibril a.s datang kepada Nabi SAW, dan berkata, “Wahai Muhammad hiduplah sesuka hatimu sesunguhnya engkau akan mati, dan cintailah apa saja yang engkau kehendaki karena sesungguhnya engkau pasti berpisah dengannya, dan berbuatlah apa saja yang engkau kehendaki karena engkau pasti akan mendapat balasan dari amal itu, dan ketahuilah sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin terletak pada sholat malamnya (qiyaamullail) dan kehormatannya bergantung pada ketidakbutuhannya kepada manusia” ~ diriwayatkan oleh Hakim dalam Al-Mustadrak

Ditulis dalam Arabic, Hadist, Islam, Quotes, Renungan | Leave a Comment »

What if Tonight is The Night of Al-Qadr (Lailatu al-Qadr)

Ditulis oleh Muhammad Hakim di/pada 10 September 2009 6:57 am

today, we’re all Moslem int the world fasting for 20th days. so we are in the last 10 days of Ramadhan. And as we’re all already know, lailatu al-Qadr is the most virtuous and the most reverend night of the year, its better than a thousands month.

Allah informs that He sent the Qur’an down during the Night of Al-Qadr, and it is a blessed night about which Allah says,

[إِنَّآ أَنزَلْنَـهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَـرَكَةٍ]

(We sent it down on a blessed night.) (44:3) This is the Night of Al-Qadr and it occurs during the month of Ramadan. This is as Allah says,

[شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِى أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ]

(The month of Ramadan in which was revealed the Qur’an.) (2:185) Ibn `Abbas and others have said, “Allah sent the Qur’an down all at one time from the Preserved Tablet (Al-Lawh Al-Mahfuz) to the House of Might (Baytul-`Izzah), which is in the heaven of this world. Then it came down in parts to the Messenger of Allah based upon the incidents that occurred over a period of twenty-three years.” Then Allah magnified the status of the Night of Al-Qadr, which He chose for the revelation of the Mighty Qur’an, by His saying,

[وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ - لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ]

(And what will make you know what the Night of Al-Qadr is The Night of Al-Qadr is better than a thousand months.) Imam Ahmad recorded that Abu Hurayrah “When Ramadan would come, the Messenger of Allah would say,

«قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِم»

(Verily, the month of Ramadan has come to you all. It is a blessed month, which Allah has obligated you all to fast. During it the gates of Paradise are opened, the gates of Hell are closed and the devils are shackled. In it there is a night that is better than one thousand months. Whoever is deprived of its good, then he has truly been deprived.)” An-Nasa’i recorded this same Hadith. Aside from the fact that worship during the Night of Al-Qadr is equivalent to worship performed for a period of one thousand months, it is also confirmed in the Two Sahihs from Abu Hurayrah that the Messenger of Allah said,

«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه»

(Whoever stands (in prayer) during the Night of Al-Qadr with faith and expecting reward (from Allah), he will be forgiven for his previous sins.)

So, what will we do if we know, tonight if the night of al-Qadr, your only chance to clean up your sins ?
I wish we can find the night al-Qadr, and do worship for the whole night, i wish Allah forgive all my previous sins. Aamiin

Ditulis dalam Al-Quran, Hadist, Islam | Leave a Comment »

Shalat Istikharah ( Kapan & Bagaimana )

Ditulis oleh Muhammad Hakim di/pada 28 Maret 2009 10:36 pm

Hari ini seorang sahabat mengingatkan saya, karena saya secara tergesa – gesa mengambil suatu pilihan tanpa shalat istikharah. Bagi seorang muslim, jalan terbaik saat digamangkan oleh beberapa pilihan, adalah dengan melaksanakanan sholat istikharah. Sholat yang tidak mengapa jika hanya 2 rakaat, dan tidak masalah jika kita melaksanakannya, baik di waktu sepertiga malam terakhir maupun di siang hari.

Sejujurnya, saya sendiri merasa kurang pantas untuk menuliskan panjang lebar perihal sholat ini, oleh karena itu cukuplah sebuah tanya jawab antara ustadz Ahmad Sarwat dengan seorang penanya berikut sebagai penjelasannya, kutipannya tanya jawab tersebut adalah sebagai berikut:

Assalamu’alaikum wr wb 

Ustadz Ahmad Sarwat Lc, yang insya Allah dimuliakan oleh Allah SWT, saya mau tanya kapankah kita seharusnya melakukan shalat istikharah dan dari segi waktunya apakah shalat Istikharoh ada batasan waktu? Seperti hanya dikerjakan pada waktu qiyyamullail dan sebagainya. Dan apakah jawabannya selalu lewat mimpi?

Xda

Jawaban:

Sholat istikharah boleh dilaksanakan kapan saja, baik siang maupun malam. Kalau dilakukan malam hari pada saat shalat tahajjud karena memang waktu seperti itu sangat utama. Namun intinya adalah ketika kita menghadapi persoalan yang berat maupun yang ringan. Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda: 

“Apabila salah seorang diantar kalian berniat melakukan suatu urusan, hendaklah dia sholat dua raka’at yang bukan fardhu kemudian hendaklah dia berdo’a , “Allahumma…” (HR Bukhari) 

Dalam hadits tersebut dijelaskan waktunya adalah kapan saja dan tidak terikat. Oleh karena itu Imam An-Nawawi berkata, “Istikharah disunnahkan dilaksanakan di segala kondisi sebagaimana dijelaskan oleh nash hadis di atas.” (Al-Adzkar) hal tersebut juga dikemukakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqolani (Fathul Bari 11/184) 

Dalam hadis tidak dijelaskan bagaimana jawaban akan diberikan, meskipun Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Adzkar menyatakan hendaklah orang tersebut memilih sesuai dengan pilihan hatinya (hatinya menjadi contong terhadap suatu pilihan setelah sholat). 

Tetapi pendapat tersebut ditentang oleh sejumlah ulama karena hadis yang menjadi rujukan Imam Nawawi adalah hadis dhoif. Para ulama hanya menegaskan bahwa jangan memilih pilihan yang ada sebelumnya yang hanya berdasarkan kepada hawa nafsu (Fathul bari 11/187) 

Jadi yang seharus dilakukan adalah, setelah kita melaksanakan sholat istikharah kita pilih mana yang terbaik (berazam) dan meyerahkan segala urusannya pada Allah. Karena kalau pilhan tersebut adalah pilihan yang terbaik, maka Allah akan memudahkannya bagi orang tersebut dan akan memberkahinya. Tetapi jika hal tersebut adalah sebaliknya maka Allah akan memalingkannya dan memudahkan orang tersebut kepada kebaikan dengan idzin-Nya. (Bughyatul Mutathowwi’ Fi Sholat At-Tathowwu’ hal 105) 

Kami tidak mendapatkan dalil shohih yang menjelaskan tentang batasan minimum maupun maksimum pelaksanaan sholat istikharah. Sedangkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu sunni dari Anas r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Anas, apabila engkau berniat melaksanakan suatu urusan, maka minta pilihan pada tuhanmu mengenai urusan tersebut tujuh kali, kemudian perhatikan mana urusan yang pertama dipilih oleh hatimu, karena kebikan ada padanya.” 

Hadis di atas dihoif sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Hajar, “Sanadnya dhoif sekali.” (Fathul Bari 11/187). Al-Iroqi berkata, “Mereka (para rowi) memang terkenal tetapi di antara mereka ada rowi yang terkenal dengan kedhoifannya (bahkan sangat dhoif) yaitu Ibrohim bin Al-Baro” (Kitab Al-Adzkar An-Nawawi dan Tuhfatul Abror As-Suyuthi hal 162-163) 

Apakah Jawabannya Selalu Lewat Mimpi?

Tidak ada satu keterangan pun yang menjelaskan bahwa hasil dari sholat istikharah akan ada pada mimpi. Sejumlah ulama di antaranya Imam An-Nawawi menyatakan bahwa pilihan akan diberikan kepada orang yang melaksanakan sholat tersebut dengan dibukakan hatinya untuk menerima atau melakukan suatu hal. 

Tetapi pendapat ini ditentang oleh sejumlah ulama diantaranya Al-’Iz bin Abdis-Salam, Al-Iroqi dan Ibnu Hajar. Bahwasanya orang yang telah melaksanakan sholat istikharah hendaklah melaksanakan apa yang telah diazamkannya, baik hatinya menjadi terbuka maupun tidak tidak. 

Ibnu Az-Zamlakani berkata, “Apabila seseorang melaksanakan sholat istikharah dua rakaat karena sesuatu hal, maka hendaklah ia mengerjakan apa yang memungkinkan baginya, baik hatinya menjadi terbuka untuk melakukannya atau tidak, karena sesungguhnya kebaikan ada pada apa yang dia lakukan meskipun hatinya tidak menjadi terbuka.” Beliau berpendapat karena dalam hadis Jabir tidak dijelaskan adanya hal tersebut (Thobaqot Asy-Syafi’iyah/ Ibnu As-Subki 9/206). 

Sedangkan hadis Anas bin Malik yang dijadikan alasan oleh Imam Nawawi didhoifkan oleh sejumlah ulama (Fathul Bari 11/187) 

Wallahu a’lam 

update:
doa setelah shalat istikharah (diriwayatkan oleh Jabir ibn Abdillah r.a dalam Sahih Bukhari)

((اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّى حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ -أَوْ قَالَ: عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ -أَوْ قَالَ: عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ)).


Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku atau -Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: …di dunia atau akhirat- sukseskanlah untukku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.

Ditulis dalam Hadist, Islam, Renungan | 8 Komentar »

Yes, We Can !

Ditulis oleh Muhammad Hakim di/pada 26 Mei 2008 12:09 am

Berikan aku sepuluh pemuda, nescaya akan ku goncang dunia! ~Sukarno, Founding Fathers Indonesia

Yang muda yang berprestasi, yang muda yang beriman, yang muda yang mengubah dunia.

semoga dengan postingan ini, kita tidak lupa dengan mimpi – mimpi kita.

dan semoga saat kita telah ingat mimpi kita, kita tidak lupa untuk memperjuangkannya.

tidak hanya pengguna, tidak hanya ahli, tapi juga bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

~For a Better Future~

1. Blake Ross (~19 tahun) – Co-founder firefox

Blake Ross

2. Larry Page (~25 tahun) & Sergey Brin (~25 tahun) Founder Google Inc. 

Sergey Brin, Larry Page

3. Chad Hurley (~28 tahun) & Steve Chen (27 tahun) – Youtube

Chad dan Chen

4. Matt Mullenweg (~19 tahun) – wordpress

image

5. Kevin Rose (~27 tahun) – Digg

image

6. Mark Zuckerberg (~20 tahun) – Facebook

image

7. Jarry Yang (~26 tahun) & David Filo (~28 tahun) – Yahoo Inc.

Jerry Yang, David Filo

8. Bill Gates (~20 tahun (1975))- Co-founder Microsoft Inc.

Bill Gates, Mitch Kapor, Fred Gibbons  

9. Steve Jobs (~21 tahun (1976)) – Co-founder Apple Inc.

image

10. Me / Us (~20 + n tahun [2010, InsyaaAllah Aamiin])

Hakim

Ditulis dalam Coretan, Google, Renungan, Tokoh | 6 Komentar »

Cerdas & Cekatan

Ditulis oleh Muhammad Hakim di/pada 5 April 2008 4:42 pm

“Sesungguhnya Allah mencela sikap lemah. Karena itu, kamu harus bertindak cerdas dan cekatan, dan ( setelah itu ) kalau kamu dikalahkan oleh suatu urusan ( tidak berhasil menghadapinya ), katakanlah ‘Hasbiyallah ( cukuplah Allah bagiku ). (H.R Abu Daud)

~ini di dapat dari milist, belum diperiksa sanad & matan & kualitas hadistnya

Ditulis dalam Hadist, Quotes, Renungan | Leave a Comment »

Takwa

Ditulis oleh Muhammad Hakim di/pada 7 Maret 2008 6:59 am

“Dan Sungguh kami telah mewasiatkan kepada orang – orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji” ~QS.An-Nisaa’:131

HR. Abu Umamah Al-Bahili r.a “Aku mendengar Roslullah SAW berkhutbah pada waktu haji wada, dalam khutbahnya Rosulullah SAW bersabda, Bertakwalah kalian kepada Rabb-mu,laksanakan sholat kalian yang lima waktu, jalankan shoum kalian sebulan penuh (dalam bulan Ramadhan), tunaikan zakat-zakat harta kalian, dan taatilah pemimpin2 kalian, maka kalian akan dapat memasuki jannah Rabb kalian”

Aku berwasiat kepadamu, bertakwalah kepada Allah yang pasti kamu akan menemui-Nya, dan tidak ada kesudahan dari hidupmu selain kepada-Nya, dan Dia-lah yang memiliki dunia dan akhirat. ~Ali r.a

“Aku wasiatkan kepadamu untuk takwa kepada Allah yang merupakan kawanmu dalam kesendirianmu dan pengawasmu dalam keadaan engkau berada di tengah ramai..” ~ Ali r.a

 “Aku mengadukan tentang jeleknya hafalanku kepada Imam Waki’, lalu beliau memberi petunjuk kepadaku, agar aku meninggalkan maksiat, lalu beliu mewasiatkan, ‘ketahuilah sesungguhnya ilmu itu cahaya, dan chaya Allah tidak akan di berikan kepada orang – orang yang maksiat’ “ ~ Imam Syafi’i r.a

aku tulis wasiat – wasit ini untuk diriku, sendiri sebagai seorang penuntut ilmu yang saat ini dalam keadaan futhur, yang telah banyak melakukan dosa, yang sangat mengharapkan Ampunan Allah SWT.

Ditulis dalam Al-Quran, Hadist, Islam, Renungan | 2 Komentar »