Kita Sama

Kita sama dihadapanNya
Tiada berbeda, Semua manusia
Nilai kita dihadapan-Nya
Hanyalah takwa, setulus jiwa

Ada masa kan kita lalui
Tuk temukan arti, Hakikat diri
Dan kan tiba waktu tuk kembali
Semua tak berarti, tak berarti lagi

Bukanlah harta yang meninggikan
Tak juga siapa yang melahirkan
Tetapi apa kita lakukan
Yang jelas menentukan

Dan bukan hanya kata yang menggambarkan
Siapa kita – siapa kita
Tetapi apa kita lakukan
Yang jelas menentukan
Siapa kita

Faliq

Jalan Cinta Para Pejuang

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..[Sumber: Jalan Cinta Para Pejuang – Salim A. Fillah]

nah, sobat bagaimana menurutmu, kalau kita dalam posisi sebagai Salman ?
sanggupkah kita melakukan hal yang sama sebagaimana Salman lakukan kepada sahabatnya Abu Darda’, mungkin berat, dan mungkin juga sakit pada awalnya, tapi saya ingin mengatakan, saya juga insya Allah siap menyerahkan mahar yang telah saya siapkan, untuk seorang sahabat saya, sebagaimana Salman melakukannya kepada Abu Darda’, karena inilah jalan cintaku, jalan cinta para pejuang.

Ganti Hati

Alhamdulillah sudah ganti hati, eh sudah menyelesaikan membaca kisahnya pak Dahlan Iskan dalam Buku Ganti Hati.


bagi yang ingin membaca via web ada di blognya beliau. saya pertama kali tahu kisahnya sewaktu melihat wawancara beliau di Kick Andy, dan kemudian membaca blog tersebut, dan alhamdulillah semalam bisa membaca bukunya. bedanya dibukunya lebih detil, dan ada gambar liver beliau yang sudah rusak :P , selain gambar – gambar beliau pra dan pasca operasi transplantasi liver di Tiongkok.

Buku yang sangat menarik, baik dari segi gaya bahasanya (mengingat beliau adalah wartawan), maupun isinya. isinya seputar proses transplantasi liver yang beliau jalani, dan tentu saja juga tentang sebagian kisah hidup beliau, tentang kerja keras, tentang kecerobohan dalam menjaga kesehatan, tentang hepatitis B, dan juga sempat menyinggung tentang kasus meninggalnya cendikiawan Nurcholis Majid akibat kegagalan transplantasi liver yang mengakibatkan wajah beliau menghitam saat meninggal (merupakan penjelasan medis atas tuduhan orang yang mencap ruh beliau di tolak Allah) dan membandingkannya dengan wajah – wajah tokoh komunis yang telah meninggal. separuh bukunya lagi berisi foto – foto dan penjelasan tentang dokter, perawat, dan rumah sakit tempat beliau menjalani operasi. serta e-mail dan sms yang dialamatkan ke beliau beserta jawabannya.

Mengajarkan Tauhid Kepada Anak Usia Dini

Era gobalisasi memunculkan banyak dampak, baik positif maupun negatif. Di satu sisi perkembangan iptek makin meningkat, tetapi di sisi lain membawa banyak krisis, terutama pada moral. Maka tidak heran, samkin hari tingkat kriminalitas, seks bebas, dsb kian meningkat.

Hal ini tentunya perlu mendapatkan perhatian dari setiap orangtua muslim yang ingin mendapatkan masa depan yang baik bagi putra putrinya. Sebagaimana disampaikan dalam al-Quran. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah dengan membentengi anak dengan perisai tauhid sejak dini.

Mengenalkan tauhid kepada anak sejak dini merupakan satu-satunya pilihan yang trepat bagi orangtua muslim. Karena dengan demikian, anak dapat membentengi dirinya sendiri dengan merasakan adanya pengawasan Allah SWT dimanapun mereka berada. Dengan tauhid, anak juga tidak akan merasa putus asa menghadapi kesulitan dalam hidup karena pertolongon Allah SWT selalu ada.

Lantas apa yang dapat dilakukan orangtua untuk mengajarkan tauhid kepada anak sejak dini? Banyak hal sederhana yang sebenarnya dapat dilakukan untuk menanamkan mereka nilai-nilai tauhid sejak dini, diantaranya :
1. Mulailah dengan mengajak anak mengamati apa yang ada di sekitarnya, seperti matahari yang terbit dan terbenam, bintang dan bulan di langit, ajak mereka mengenal penciptanya yakni Allah SWT.

2. Bila melarang anak, upayakan untuk tidak mengancamnya dengan dosa, neraka dan hal-hal menakutkan lainnya. Pola pikir anak yang konkret operasional cenderung sulit untuk memahami makna dosa, neraka, dsb. Cukup berikan mereka penjelasan konkret yang dapat diterima oleh pikirannya, misalnya untuk melarang anak mencuri, cukup berikan mereka penjelasan bahwa hal tersebut dapat menyakiti orang lain karena berarti mengambil hak yang bukan miliknya.

3. Apabila anak melakukan kesalahan, bantu mereka untuk menemukan jalan untuk memperbaiki kesalahannya, tanpa harus mengancam dengan dosa, neraka dan sebagainya, karena hal tersebut akan membuat persepsi anak negatif terhadap Islam.

4. Sertakan anak saat menjalankan ibadah sehari-hari, seperti sholat berjamaah, kegiatan pengajian, dsb. Jelaskan pula hikmah yang bisa mereka dapatkan dari ibadah yang di jalankan. Dengan demikian, mereka akan semakin akrab dengan aktivitas keagamaan.

5. Dalam memilih hiburan, upayakan untuk memberikan anak tayangan-tayangan yang tidak merusak aqidah. Tanamkan kepada mereka bahwa rasa takut hanya kepada Allah SWT, bukan kepada setan atau mahluk Allah lainnya. Janganlah salah mendidiknya dengan mengatakan ”Nak, nih bunda pasangin ayat kursi biar setan takut dan gak ganggu kamu”. Bila kita berbuat demikian, maka anak pun akan berpikir bahwa yg melindunginya adalah tulisan ayat kursi bukan Allah, jadi ayat kursi ini berposisi seperti jimat hanya di pajang dan dibawa-bawa.

6. Ajarkan anak untuk berdoa sebelum melakukan aktivitas, sampaikan kepada mereka bahwa berdoa berarti memohon pertolongan dan kelancaran kepada Allah SWT atas aktivitas yang hendak dijalankan. Jangan lupa sesudahnya mengucapkan kalimat hamdallah sebagai salah satu wujud kesyukuran.

7. Bimbing anak untuk mensyukuri segala nikmat yang diberikan agar mereka tidak menuntut apa-apa yang tidak ada. Pahamkan juga kepada mereka bahwa untuk memperoleh sesuatu, seseorang harus mau berusaha dan berdoa karena Alloh SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak bersuaha mengubahnya.
Lewat beberapa kiat diatas, diharapkan generasi muda Islam masa depan dapat lahir dengan pilar keimanan yang kokoh sehingga mampu membentengi diri dari pengaruh negatif perkembangan globalisasi. Amin. Allahua’lam.

Semoga bermanfaat ^^
sumber: http://myquran.org/forum/index.php/topic,40651.msg1175616.html#msg1175616

Shalat Dengan Pakaian Najis

Isya Tadi, Saya alhamdulillah masih bisa ikut berjamaah sholat isya di Masjid; Setelah selesai sholat; saat berdzikir ane melihat di kaki ternyata ada najis (kotoran cicak); buru – buru saya keluar masjid, dan mensucikan telapak kaki saya. Permasalahan selanjutnya adalah, apakah saya wajib untuk mengulang sholat saya? padahal saya tahu adanya najis setelah selesai sholat? Saya memilih tidak mengulang sholat tersebut (awalnya ingin mengulang sholat saja).

Hal ini berdasarkan informasi yang saya peroleh berikut kutipannya (dari sini):

Oleh : Syaikh Abdullah bin Jibrin
Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya : Jika seorang wanita lupa sehingga ia shalat dengan menggunakan pakaian yang telah terkena najis, lalu di tengah shalat ia teringat bahwa pakaian yang dipakaianya itu telah terkena najis, apakah boleh bagi wnaita itu menghentikan shalatnya untuk mengganti pakaian itu? Dan bilakah saat-saat dibolehkannya menghentikan shalat?

Jawaban
Barangsiapa yang melaksanakan shalat dengan membawa najis dan ia mengetahui adanya najis itu maka shalatnya batal, akan tetapi jika ia tidak tahu adanya najis hingga selesai shalat maka shalatnya sah dan tidak diharuskan baginya untuk mengulangi shalat itu. Jika keberadaan najis itu diketahui saat ia melakukan shalat serta memungkinkan baginya untuk menghilangkan najis itu dengan segerra,maka hendaknya ia lakukan itu kemudian melanjutkan shalatnya hingga selesai.

Telah disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa suatu ketika beliau melepaskan kedua sandalnya saat shalat setelah malaikat Jibril mengkhabarkan beliau bahwa pada kedua sandalnya itu terdapat najis dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatalkan bagian shalat yang telah dikerjakannya. Begitu juga bila mengetahui bahwa pada sorbannya terdapat najis, maka hendaklah segera menanggalkannya berdasarkan riwayat tadi.

Adapun jika menghilangkan najis itu membutuhkan suatu proses yang panjang, seperti harus melepaskan baju atau celana atau lainnya yang mana setelah melepaskan pakaian itu ia jauh dari shalatnya, maka hendaknya menghentikan shalat dulu untuk itu dan memulai shalatnya dari awal, seperti halnya bila teringat bahwa ia tidak dalam keadaan suci atau batal wudhunya saat shalat, atau batal shalatnya karena tertawa atau lainnya saat shalat.

[Fatawa Al-Mar’ah, halaman 36]

hadist berikut juga memantapkan pilihan saya

diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Suatu hari kami shalat bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Ketika shalat telah dimulai tiba tiba beliau mencopot sandalnya, lalu meletakkannya di samping kirinya. Melihat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mencopot sandalnya, orang orang iktu mencopot sandal mereka. Setelah shalat selesai, beliau bertanya, “Mengapa kalian mencopot sandal kalian?” Mereka menjawab, “Karena kami melihat engkau mencopot sandal.” Beliau menjawab, “Tadi Jibril datang untuk mengabarkan bahwa pada sandal saya terdapat kotoran, maka saya pun mencopotnya. Apabila kalian datang ke masjid, hendaknya perhatikan sandal kalian barangkali ada kotoran menempel; bila ternyata ada kotoran menempel, bersihkan dulu, baru kalian shalat.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud no. 650. Dishahihkan oleh Al Albani di Al Irwa’ no. 284).