Do Friends Make Good Business Partners?

When it comes to picking partners, many see their friends as the obvious choice to share in making your dreams into reality. Business isn’t all sunny days, however, and the best way to weather the storms with your friendships intact is to start out with a good umbrella.

If necessity is the mother of invention, then assumption is the wicked stepmother of doom. The most sure-fire way for a group of friends to become bitter enemies is to go into a partnership under the assumption that friendship conquers all. Friends, and business partners, are only human, and when cash and control enters the equation, friendship can quickly fall by the wayside. What, then, can be done about it?

First and foremost, get it in writing. Slick salespeople, eyewitnesses, and business partners have one thing in common: their stories are prone to changing. Starting out with a comprehensive partnership agreement, drafted by an experienced business attorney, is key to keeping your startup together and your friendship out of the courts. While it may seem like you’re starting things off with a signed and sealed statement of distrust, having all the details in writing greatly reduces the opportunity for misunderstandings, hurt feelings, and loss of trust.

What exactly should a partnership agreement say? Only an attorney is qualified to offer specific advice tailored to your specific partnership, but all good agreements will cover a core set of principles. Among them, money and authority are paramount – a sound agreement will address financing, equity, and salaries, along with disbursements, withdrawals, and dividends. Setting out who will provide what, how their investment will be rewarded, who is entitled to what assets, and when they are entitled to them is key to ensuring the financial security of the business and a continued friendship among the partners.

The agreement should also address how the business will be be controlled. The partnership agreement is the foundation that establishes the relationship and governs the rights and responsibilities of the parties. The law places various obligations on partners, and in many cases, holds all the partners responsible for the individual actions of each. Deciding upfront who has what authority, and what stake they hold, can mean the difference between smooth operations and disaster.

Having reasonable expectations, both for the business and for the partners, is often overlooked in the excitement of chasing a dream. Success comes as the result of hard work, and expecting miracles overnight is an all-too-common occurrence. When unattainable goals aren’t met, blame and resentment will begin to chip away at even the strongest of friendships.

Finally, open communication is essential in any startup, but particularly so between friends. How the day-to-day operations will be handled, who will be responsible for what, how disagreements should be settled, and what to do should the business fail are all issues that should be discussed and agreed upon beforehand. Though they may be difficult subjects to broach, leaving them unconsidered is an invitation for problems later.

Bringing a business together between friends doesn’t have to be the beginning of the end. Proper planning, clear expectations, and clear communication are the foundation of maintaining both your friendship and a lasting partnership.

source: http://blogs.sun.com/sun4startups/entry/do_friends_make_good_business

Iklan

Al-Quran Recitation by Ziyad Patel (Al-A’raf[7]:40-47)

Sesungguhnya orang – orang yang mendustakan Ayat – ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali – kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu – pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami Memberi Pembalasan kepada orang – orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami Memberi Balasan kepada orang – orang yang zalim.
Dan orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal – amal yang saleh, Kami tidak Memikulkan Kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni – penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
Dan Kami Cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai – sungai dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah Menunjuki kami kepada (Surga) ini. Dan kami sekali – kali tidak akan mendapat Petunjuk kalau Allah tidak Memberi kami Petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul – Rasul Tuhan kami, membawa kebenaran.” Dan diserukan kepada mereka, “Itulah Surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.”
Dan penghuni – penghuni surga berseru kepada penghuni – penghuni neraka (dengan mengatakan), “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami Menjanjikan kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (Azab) yang Tuhan kamu Menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab, “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, “Kutukan Allah Ditimpakan kepada orang – orang yang zalim,
(Yaitu) orang – orang yang menghalang – halangi (manusia) dari Jalan Allah dan menginginkan agar Jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.”
Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas al A’raf itu ada orang – orang yang mengenal masing – masing dari dua golongan itu dengan tanda – tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, “Salamun ‘alaikum” mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).
Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama – sama orang – orang yang zalim itu”.

Win

Dark is the night
I can weather the storm
Never say die
I’ve been down this road before
I’ll never quit
I’ll never lay down
See I promised myself that I’d never let me down

I’ll never give up
Never give in
Never let a ray of doubt slip in
And if I fall
I’ll never fail
I’ll just get up and try again

Never lose hope
Never lose faith
There’s much too much at stake
Upon myself I must depend
I’m not looking for place or show
I’m gonna win

No stopping now
There’s still a ways to go
Someway, somehow
Whatever it takes, I know
I’ll never quit, no no
I’ll never go down
I’ll make sure they remember my name
A hundread years from now

When it’s all said and done
My once in a lifetime will be back again
Now is the time
To take a stand
Here is my chance
That’s why I’ll

I’m gonna win

Melejitkan Moral-Spiritual Anak

Stimulasi Pendengaran

Stimulasi pendengaran dicontohkan oleh Ibunda Imam Syafii. Kita tahu Imam Syafii adalah orang besar dalam khazanah pemikiran Islam, khususnya pemikiran fikih. Sudah pasti kapasitas otaknya luar biasa. Ia memiliki kemampuan mengingat informasi hadits yang teramat banyak. Lebih dari itu, kemampuannya yang sangat menonjol adalah menganalisis dan mensintesis serta mengaplikasikan ajaran Islam sehingga akhirnya banyak ijtihad fiqihnya yang bertahan lebih dari seribu tahun. Sedemikian kuatnya argumentasi yang dibangunnya, sehingga sebagaian besar umat Islam mendasarkan ibadah dan muammalahnya berdasarkan kitab fikih yang disusun Imam Syafii.

Syafii yang hebat ini –di masa kecilnya– ternyata distimulasi pendengaran secara optimum oleh ibundanya. Stimulasi yang bersifat terus menerus adalah mendengar bacaan ayat suci Al Qur’an dari ibundanya yang hafidhah. Kita tahu seorang hafidhah yang aktif biasanya menghabiskan 3-4 hari untuk mengkhatamkan Al Qur’an. Rata-rata Ibunda Imam Syafii membacakan untuk Syafii 8-10 juz sehari. Kita bisa bayangkan banyaknya stimulasi kognitif oleh ibundanya: 5-8 jam sehari memperoleh stimulasi yang bersifat aktif. Dalam situasi demikian, neuron-neuron dalam otak Syafii kecil bekerja secara aktif. Terjadi sambung menyambung antara neuron satu dengan yang lain sehingga menghasilkan wadah kognitif dan spiritualitas yang luar biasa.

Memang demikianlah keadaannya. Beberapa tahun setelah banyak duduk di pangkuan ibundanya, Imam Syafii mulai belajar membaca dan menghafal Al Qur’an. Hari demi hari ia pelajari satu per satu ayat-ayat suci Al Qur’an. Orang melihat betapa cerdas Imam Syafii. Karena wadah kognitifnya yang demikian besar, ia mampu memasukkan asupan informasi secara optimum. Pada usia 7 tahun, ia telah menghafal seluruh isi Al Qur’an. Sekali lagi: Luar Biasa!

Dalam konteks kehidupan kita saat ini, kita juga semestinya memperkaya stimulasi pada anak dengan berbagai aktivitas. Memberinya nama yang baik, mengajaknya bicara, menyanyikan lagu indah dan optimistik, memperdengarkan cerita-cerita yang baik, ceramah-ceramah dan murottal, mengajak dan mendorongnya ikut acara keagamaan, dan sebagainya adalah upaya untuk mengaktifkan otak dan hati anak. Kita dipersilakan untuk mencari sendiri secara kreatif apa yang bisa diberikan pada anak, baik dalam bentuk mengarahkan, memberi feedback, melarang, dan sebagainya. Catatan yang terpenting adalah informasi yang diberikan bersifat positif dan tidak menjadikan anak takut untuk berkembang, seperti cerita yang mengerikan, cerita dengan tokoh jahat, dan sebagainya.

Stimulasi Penglihatan

Dalam konteks kehidupan saat ini, anak-anak kita pun layak untuk mendapatkan stimulasi ini secara optimum. Kita dipersilakan melakukan cara kreatif untuk memberikan stimualasi penglihatan ini pada anak. Kita tahu bahwa anak yang sehat selalu menginginkan ini. Mereka ingin melihat dunia ini dengan bermilyar warna-warninya. Kalau kita penuhi kebutuhan mereka, kita berarti memberinya kesempatan untuk memperbesar wadah kognitifnya.

Ada cerita menarik dari seorang kenalan saya yang kebetulan seorang hakim. Suatu ketika ia mendapati anaknya mengambil uang di lemari tanpa bilang ke orangtuanya. Ini diulanginya berkali-kali. Wah, ini perilaku tidak baik dan tak boleh berlanjut, kata sang ibu dalam hati. Maka, ia ajak naik sang anak ke mobil dan berhenti di pintu masuk sebuah penjara. Ia berkata kepada anaknya: apa kau ingin masuk ke sana? Kalau kau suka mengambil uang tanpa diizinkan pemiliknya, kau bisa dipenjara seperti mereka. Apa yang dilihat anak ini berkesan sepanjang kehidupannya. Berdasar cerita kenalan saya tadi, si anak tidak lagi mengambil uang tanpa izin.

Cerita berikutnya adalah seorang ayah yang mendapati anaknya yang suka membantah. Setiap kali orangtua bicara ada saja alasan untuk menolak perintah sang ayah. Si ayah ingin memberi pelajaran kepada sang anak bahwa orangtua itu penting. Nasihat orangtua adalah sesuatu yang patut menjadi perhatian. Maka, sang orangtua mengajak anak naik motor dan berhentilah mereka di depan pemakaman. Si ayah berkata: Nak, kamu tahu tempat apa ini? Si anak menjawab: makam. Si ayah meneruskan: Apa yang akan kamu rasakan kalau ayah tiba-tiba meninggal dunia dan dikubur di sini? Si anak tidak segera menjawab. Ia diam. Tetapi sejak saat itu, si anak tidak lagi membantah kepada nasihat dan perintah orangtuanya.

Tentang pentingnya stimulasi penglihatan ini, para pendidik dan ahli pendidikan sangat menyadari pentingnya masalah ini. Sebagaimana diungkapkan oleh Zakiah Daradjat, perilaku yang mereka tunjukkan akan dijadikan anak sebagai rujukan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh penglihatan mereka (83 persen), pendengaran (11 persen), dan penciuman-pencicipan-perabaan (6 persen). Apa yang dilakukan orangtua membekas ”seribu kali” lebih besar dibandingkan dengan kata-kata yang bertentangan dengan perilaku orangtua. Maka, dapat dikatakan di sini, keteladanan orangtua sangat penting.

Masalah moralitas dan spiritualitas ini sangat penting didekati dengan stimulasi penglihatan atau keteladanan. Si anak akan mudah menjadi hamba yang suka beramal bila si orangtua mudah memberikan sebagian rezeki kepada pengemis jalanan, tetangga yang membutuhkan, masjid yang sedang dibangun, dan seterusnya. Si anak juga akan mudah melakukan perilaku bermoral bila orangtua juga: tidak sembarangan meletakkan kaki di meja, membuang sampah dengan cara melempar, membicarakan orang lain, dan seterusnya. Kata orang, kalau anak melihat yang baik belum tentu ia meniruanya. Tapi kalau jelek, ia jauh lebih mudah menirunya.

Stimulasi Perabaan

Yang tak kalah pentingnya ketika berkomunikasi dengan anak adalah menyentuh mereka. Saya sendiri sering menyentuh dan bahkan memeluk anak saya yang menangis meraung-raung. Kalau sudah dipeluk, biasanya ia mulai tenang.

Nabi Muhammad SAW., sebagaimana diungkapkan oleh seorang sahabat yang waktu kecil disentuh Nabi, juga suka menyentuh anak-anak. ”Pada suatu hari aku tengah shalat dhuhur bersama Nabi SAW. Seusasi shalat beliau keluar menuju rumah keluarganya, aku pun mengikuti Nabi SAW ke rumahnya. Aku melihat anak-anak menyambut beliau, maka beliau pun mengusap kedua pipi mereka satu per satu. Ketika mengetahui bahwa aku mengikutinya, Nabi SAW. pun mengusap pipiku, dan aku merasakan tangannya yang dingin dan tersebar harumnya tangan Nabi SAW. seolah-olah tangan beliau baru saja dikeluarkan dari tempat minyak wangi.”

Stimulasi Bermain

Dalam kehidupan sehari-hari, penting bagi orangtua untuk bermain dan bercanda dengan anak-anak. Hal-hal sejenis ini sangat berguna untuk membentuk lingkungan yang menyenangkan bagi anak. Nabi Muhammad SAW. adalah contoh orang dewasa yang suka bermain-main dengan anak-anak, terutama dengan kedua cucunya yang bernama Hasan dan Husain. Nabi merendahkan tangan dan badannya serta berlari ke sana kemari seolah-olah bertingkah seperti kuda. Ini menjadikan anak-anak tertawa gembira. Nabi pun pernah memanjangkan sujud dalam shalatnya karena Husain naik ke punggung beliau. Umar bin Khattab ra. pernah berkata: ”Diupayakan agar setiap orang berlaku seperti anak ketika bercanda dengan anak-anaknya. Hal ini akan membaut mereka senang dan bergembira dalam bermain bersamanya.”

Dalam buku Doktor Cilik Hafal dan Paham al-Qur’an, diceritakan bagaimana orangtua sang hafidh Muhammad Husein Tabataba’i mendidik dirinya. Sayid Muhammad Mahdi Tabataba’i adalah guru dari anak-anaknya dan sejumlah anak lain yang belajar menghafal al-Qur’an darinya. Ketika mengajarkan hafalan al-Qur’an, Mahdi banyak menggunakan metode permainan. Salah satunya adalah mengulang-ulang ayat bergantian dengan berlomba mencari kursi. Siapa yang tidak dapat kursi giliran mengulang bacaan.

sumber: http://www.pikirdong.org/psikologi-islami/sos13mmsa.php