Hati: Fu’aad, Qalb, dan Shadr

Di dalam al-Qur’an, Allah SWT menggunakan 3 kata yang berbeda untuk mendeskripsikan hati, yaitu: qalb, fu’aad dan shadr. Kita meyakini, bahwa Allah SWT menggunakan masing-masing kata tersebut, untuk suatu alasan dan makna tertentu; namun demikian, pada umumnya terjemah dari kata-kata tersebut adalah sama yaitu “hati”. Dan oleh karenanya terkadang, makna-makna yang mendalam dari ayat-ayat al-Qur’an tidak dapat kita tangkap sepenuhnya dengan hanya membaca terjemah makna ayat-ayat tersebut.

1. Qalb/Qulub (قُلُوب)
kata Qalb (قلب) atau kalbu, adalah kata umum yang digunakan untuk menunjukkan hati/jantung. Kata ini memiliki akar kata yang bermakna sesuatu yang berubah dan berbolak-balik. Sebagaimana sebuah doa yang diajarkan Rasulullah SAW


يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami dalan agama (Islam)”. (HR. Ahmad: 23463)
Adalah merupakan sifat alami dari hati, yang selalu berubah-ubah suasana (membolak-balik). Dalam al-Qur’an Allah SWT pada umumnya menggunakan kata qalb saat dibahas tentang iman dan penyakit hati. Misalnya dalam surah al-Baqarah ayat 7:


( خَتَمَ اللَّـهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿البقرة: ٧

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

2. Fu’aad (فُؤَادُ )
فُؤَادُ berasal dari kata kerja fa’ada فأد yang bermakna terbakar/membakar atau berkobar. Misalnya dalam kata فأَد الخبزة (roti bakar). Kata fu’aad dalam bahasa arab digunakan untuk menggambarkan hati yang sedang “terbakar” emosi. Adapun Allah SWT menggunakan kata ini dalam al-Qur’an untuk menggambarkan keadaan emosi hati, baik sedang sedih, bahagia, frustasi, marah, menyesal dsb. Misalnya dalam surah al-Qashshash ayat 10 yang menceritakan Ibunda nabi Musa a.s saat melihat Musa as. Dipungut oleh istri Fir’aun.


وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa.
Hati ibunda Musa a.s menjadi kuatir yang teramat sangat karena anaknya berada di tangan Fir’aun, hingga seakan menjadi farighaa (kosong), karena “lepas dari dadanya”. Allah SWT menggunakan kata fu’aad untuk mendefinisikan hati dengan luapan emosi ini. Kemudian kelanjutan ayat ini:


إِن كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَن رَّبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا

Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak kami Teguhkan hatinya,
Namun kemudian Allah Yang Maha Pengasih meneguhkan hati ibundanya Musa a.s hingga menjadi teguh; yang tidak lagi digambarkan dengan fu’aad tapi dengan kata qalb kembali.

Di dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman:


إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَـٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.

Nampaknya dari ayat ini Allah SWT hendak menyampaikan, bahwa bukan qalb (jantung/hati) yang hendak dimintai pertanggungjawaban, namun emosi gejolak hati (baik bahagia karena berbuat kebajikan, maupun penyesalan setelah berbuat dosa) yang akan dimintai pertanggungjawaban, dan juga karena pada dasarnya kita bisa mengontrol gejolak hati tersebut sehingga layak dimintai pertanggungjawaban. Wallahua’lam.

3. Shadr (صدر  )
shadr bermakna dada, saat al-Qur’an menggambarkan sesuatu yang tersembunyi, niatan yang tersembunyi, Dia menggunakan kata shadr ini, yaitu untuk menggambarkan sifatnya yang tersembunyi dan tertutup. misalnya:


قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّـهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّـهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

katakanlah, “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau melahirkannya, pasti Allah Mengetahui”. Allah Mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang adad di bumi. Dan Allah Maha Kuasa tas segala sesuatu. (Ali-Imran:29)


الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (an-Naas:5)

setan nampaknya tidak bisa membisikkan kejahatan ke dalam qalb, tapi ke dalam dada manusia. Hal ini karena pada dasarnya qalb itu suci. Hati manusia adalah serupa dengan benteng, dan mata, lidah, tangan dan telinga adalah pintu-pintunya; Allah SWT dengan Kasih Sayang-Nya tidak membiarkan qalb kita dapat langsung ditembus oleh bisikan setan, namun setan bisa membisikkan ke dalam shadr kita, dan dia mengaksesnya melalui pintu-pintunya, maka apakah kita membiarkannya terbuka atau menutupnya rapat-rapat sehingga setan tidak bisa masuk, itu terserah kita;

Mungkin selama ini kita kurang memperhatikan ayat-ayat al-Qur’an, namun Allah SWT sendiri telah mendeklarasikan keagungan al-Qur’an dan menantang siapa saja untuk membuat satu ayat yang serupa dengan-Nya yang dapat dipastikan tidak akan bisa. Dan kalaulah seandainya kita lebih mencermati-Nya, Insyaa Allah niscaya kita akan menemukan keagungan-Nya, baik dari segi makna-maknanya, kabar-kabar yang disampaikannya, susunan kalimatnya, bahkan pada pilihan katanya, sebagaimana pilihan kata untuk “hati” yang dibahas dalam tulisan ini.

Wallahua’lam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s