Madzhab Anti-Madzhab

Beberapa tahun terakhir ini muncul sebuah aliran yang menyerukan agar umat Islam berlepas diri dari seluruh mazhab dan tidak berpegang dengan salah satu mazhab apapun, terutama dalam masalah Fikih. Mereka menyerukan agar umat Islam berpegang pada Quran dan sunnah saja dengan pemahaman para sahabat dan salafus shalih. Lalu mereka menyebut hal itu sebagai berpegang teguh terhadap mazhab Rasulullah. Aliran ini pun kemudian mencatut nama salafus shalih untuk dijadikan nama mereka.

Jika kita amati sepintas, seruan ini tampak sangat indah dan memukau. Bagaimana tidak, siapa yang ingin menandingi Rasulullah, nabi yang maksum (steril dari kesalahan), dengan mengikuti para imam atau ulama yang tidak maksum? Siapa yang ingin mengikuti pendapat para imam atau ulama dengan meninggalkan hadis-hadis shahih, padahal mereka semua mengatakan, “Jika hadis shahih, itulah mazhabku.” Maka, secara tidak langsung jika kita mengikuti hadis shahih, berarti kita telah melaksanakan wasiat para imam itu sendiri. Sebaliknya, jika kita mengikuti pendapat mereka dengan meninggalkan hadis shahih, berarti kita telah menyelisih mazhab mereka. Benarkah demikian?

Semenjak wafatnya Rasulullah, para ulama –yang merupakan pewaris para nabi, melanjutkan perjuangan Islam dengan mentransfer ajaran-ajaran Islam kepada generasi berikutnya. Perjuangan ini dipelopori oleh para sahabat nabi, dilanjutkan dengan para pengikutnya (tabiin), pengikut pengikutnya (atba’ tabiin) dan seterusnya hingga sekarang.

Sebagaimana telah menjadi sunnatullah bahwa seiring berlalunya zaman, dinamika persoalan yang muncul dalam kehidupan manusia semakin bertambah dan kompleks. Banyak permasalahan baru dihadapi oleh umat Islam yang belum pernah terjadi pada masa sebelumnya, terutama di zaman nabi. Keadaan itu memaksa tokoh-tokoh Islam yang diwakili oleh para ulama mujtahidin untuk membahasnya secara intensif dan mencari solusinya dalam syariat Islam. Mereka tertuntut untuk memberikan jawaban dari setiap permasalahan yang terjadi dengan merujuk pada sumber-sumber resmi dalam syariat. Lalu bagaimana mereka menjawab tantangan zaman yang selalu bertambah dan tidak pernah berkurang itu dengan sumber syariat berupa teks-teks Quran dan hadis yang jumlahnya sangat terbatas?

Sejarah Lahirnya Fikih

Pada masa nabi, seluruh sahabat dapat merujuk langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selaku pemilik tunggal otoritas membuat hukum (tasyri’) yang mewakili Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga setiap permasalahan dapat terselesaikan dengan pengawasan dari langit secara langsung. Namun sepeninggal beliau, para sahabat yang pernah hidup semasa dengan beliau menggunakan Quran dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai dasar mengambil hukum. Jika tidak menemukan, maka mereka berijtihad sekuat tenaga dengan akal mereka, baik dengan membandingkan persoalan serupa yang telah ditetapkan hukumnya melalui teks-teks (metode Qiyas) ataupun mengembalikannya pada prinsip-prinsip dasar ajaran Islam sebagaimana yang telah mereka pahami selama bersahabat dengan nabi. Sebagian hukum itu akhirnya dibukukan oleh orang-orang setelahnya dan dinamakan hukum Fikih.

Fikih ibarat bangunan megah yang telah dibangun oleh para ulama sejak ribuan tahun lalu hingga sekarang. Fikih mencerminkan kekayaan hukum Islam. Di dalamnya kita akan mendapati ribuan bahkan jutaan permasalahan yang dibahas oleh para fuqoha. Sebagian permasalahan itu telah menjadi kesepakatan (ijma’ atau ittifaq) seluruh ulama, sebagian lain merupakan pendapat mayoritas (jumhur), dan selebihnya adalah permasalahan yang masih dipersilihkan (ikhtilaf).

Di dalam kitab-kitab Fikih, kita mendapati penjelasan para ulama mengenai hukum-hukum Islam dengan bahasa yang komunikatif. Sebagian kitab, di samping menjelaskan hukum-hukum juga menyertakan dalil-dalilnya, sementara sebagian lain hanya menyebutkan hukum-hukumnya saja tanpa dalil. Alasan tidak disertakannya dalil bisa bermacam-macam, di antaranya karena dalil itu sudah sangat populer (masyhur) sehingga tidak perlu disebutkan lagi, atau kadangkala dalil itu bukan berupa teks yang zhahir dan sharih, melainkan penafsiran yang diambil dari teks, baik melalui metode mafhum muwafawah ataupu mukhalafah sebagaimana dibahas dalam ilmu Ushul Fikih. Atau bisa juga untuk meringkas kitab supaya tidak terlalu panjang dan bertele-tele sehingga menyulitan para murid dan membuat mereka bosan.

Itulah wujud kekayaan hukum Islam yang tidak meninggalkan satu permasalahan pun kecuali para fuqoha telah membahasnya secara detail, tentu saja sesuai dengan kondisi pada zaman mereka.

Jika ayat dan hadis kita ibaratkan sebagai bahan-bahan pokok, maka Fikih merupakan produk yang sudah siap pakai. Umat Islam tidak perlu repot-repot membolak-balik kitab Quran atau kitab-kitab hadis lalu membaca satu-persatu ayat dan hadis yang jumlahnya mencapai ribuan untuk mengetahui bagaimana tatacara shalat yang benar, atau puasa yang benar, dan sebagainya. Mereka cukup mencarinya dalam kitab-kitab yang telah ditulis oleh para ulama yang telah mereka sarikan dari sumber-sumber resmi dalam syariat Islam dengan metode atau kaidah yang telah diketahui dalam Ushul Fikih. Tujuan para ulama membukukan hukum-hukum itu adalah untuk mempermudah seorang murid dalam mencari hukum-hukum dalam permasalahan-permasalahan tertetu.

Orang-orang yang menyerukan agar umat Islam meninggalkan kitab-kitab Fikih ibarat ingin meruntuhkan istana yang sudah dirintis oleh para ulama sejak dahulu dan mengajak umat Islam untuk membangun kembali istana baru dari awal dengan berbekalkan bahan-bahan pokok yang (sangat boleh jadi) tidak semua umat Islam mengerti tentangnya. Memang slogan kembali kepada Quran dan Sunnah mudah diucapkan, namun prakteknya tak semudah pengucapannya.

Seharusnya, sebelum mereka menyerukan hal itu, mereka harus menawarkan terlebih dahulu rancangan atau desain bangunan seperti apa yang akan mereka buat, bagaimana bentuknya, apa saja alat-alatnya, bagaimana cara membuatnya, dan seterusnya. Itulah yang dinamakan dengan Ushul Fikih, yaitu pondasi Fikih. Tak mungkin sebuah bangunan dapat berdiri tanpa pondasi. Tanpa itu semua, ibarat berteriak-teriak dengan tangan kosong. Karena seruan itu sama saja mendeklarasikan umat Islam agar meninggalkan mazhab yang ada dengan membangun mazhab baru yang independen.

Memang, bangunan Fikih dibuat dengan bahan-bahan ayat dan hadis, selebihnya disusun dengan akal atau ijtihad. Namun permasalahannya, tidak semua lapisan umat Islam dapat melakukan hal itu. Para pakar Ushul Fikih telah membagi umat Islam menjadi dua: mujtahid dan muqallid. Para mujtahid adalah mereka yang memiliki kapabilitas dan kompetensi di bidang penyimpulan hukum (istimbathul ahkam) secara langsung dari dalil-dalil yang terperinci (al-adillatut tafshiliyyah), sementara para muqallid yang diwakili oleh kalangan awam umat Islam adalah mereka yang tidak memiliki kemampuan itu. Maka sangat keliru jika menyamakan seluruh lapisan umat Islam dan mengajak mereka untuk berijtihad secara langsung dengan mengambil dalil-dalil dari Quran dan sunnah lalu menyusunnya menjadi sebuah hukum syar’i. Bagaimana kita ingin mengajak orang-orang yang tidak mengerti tentang kaidah-kaidah pengambilan hukum secara resmi untuk menyimpulkan hukum secara langsung dengan merujuk kepada Quran dan sunnah, sementara sebagian di antara mereka (boleh jadi) membaca Quran saja masih belum benar? Ungkapan kembali kepada Quran dan sunnah akan menjadi tepat jika dipandu dengan pemahaman yang benar dan kemampuan yang mumpuni, bukan ditujukan kepada orang awam yang mungkin bahasa Arab saja tidak tahu.

Adapun pendapat sebagian orang yang menyisipkan kategori muttabi’ di antara dua kategori di atas, tidaklah merubah substansi pembagian tersebut. Muttabi’ pada dasarnya bukanlah mujtahid karena belum sampai derajat ijtihad. Jadi membebani muttabi’ untuk berijtihad juga kurang tepat.Read More »

Iklan

Muru’ah

Ketika aku kesusahan kawanku tak mengerti
Aku berusaha merasa kaya, hingga kawanku menganggap aku kaya
Rasa maluku menjaga air mukaku, kelembutanku membuat kawanku mencariku
Jika saja aku sia-siakan air mukaku, niscaya jalan kepada kepopuleran akan mudah
Dua sifat yang tidak rela aku melewatinya
Sombongnya sifat kaya dan hinanya kemelaratan
Ketika kau kaya janganlah kau sombong lagi ceroboh
Jika kau melarat maka sombongilah waktu

kenang imam at-Thabari (Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Katsir ibn Ghalib at-Thabari) rahimahullahu ta’alaa waridwanuhu ‘alaihi, saat menghadapi cobaan semasa mencari ilmu. Beliau adalah seorang pakar tafsir al-Qur’an, ahli dalam bidang hadits dan fiqh (ada yang berpendapat beliau adalah seorang mujtahid mutlak, meskipun masyhur bermadzhab syafi’i), dan juga pakar sejarah; Semoga Allah SWT mengasihinya dan meridhoi jiwanya.


wikipedia tentang beliau:
1. http://ar.wikipedia.org/wiki/الطبري
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_ibn_Jarir_al-Tabari

Berhati-hati dan selalu waspada


اَلنَّاسُ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا العَامِلُونَ ، وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَالِمُوْنَ ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلاَّ الْمُخْلِصُونَ ، وَالْمُخْلِصُونَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ . فَإِنَّ الْمَغْرُوْرَ هَالِكٌ وَالْمُخْلِصَ الْفَارَّ مِنَ الغُرُورِ عَلَى خَطَرٍ فَلِذٰلِكَ لَايُفَارِقُ الْخَوْفُ وَلْحَذَرُ قُلُوْبَ أَوْلِيَاءِ اللهِ أَبَداً

ciri dari adanya hidup adalah adanya amal; namun demikian, dibutuhkan ilmu untuk beramal dan suatu amal berpotensi tertolak jika tanpa ilmu. Amal yang terlihat baikpun berpotensi tertolak jika tidak disertai keikhlasan; sedangkan keikhlasan itu adanya di awal, di tengah dan di akhir.

saya memohon pertolongan, perkenan dan husnul khotimah kepada Allah SWT, karena sesungguhnya baik atau buruknya perkara, hidup ini, ditentukan oleh penutupannya.[*]

Semua orang binasa, kecuali orang-orang yang beramal. Semua orang yang beramal binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Semua orang yang berilmu binasa kecuali orang-orang yang ikhlas, dan orang-orang yang ikhlas terancam bahaya besar. Sesungguhnya orang yang terpedaya binasa sedangkan orang ikhlas yang lari dari keterpedayaan tetap terancam bahaya. Oleh karena itu, rasa takut dan waspada tidak pernah berpisah dari hati para wali Allah sama sekali.


*Hadits Shahih, Muttafaqun ‘alaihi

Mengapa Do’a Tak Dikabulkan

“Mengapa do’a kami tidak dikabulkan, padahal Allah SWT telah berfirman , Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku perkenankan bagimu; ? “, orang-orang kepada Ibrahim bin Adham.
“Karena hati kalian telah mati”, jawab beliau.
“Apa yang telah bisa mematikannya ? “, tanya mereka lagi.
beliaupun menjawab, ada delapan hal


عَرَفْتُمْ حَقَّ اللهِ وَلَمْ تَقُومُوا بِحَقِّهِ ، وَقَرَأْتُمُ القُرْانَ وَلَمْ تَعْلَمُوا بِحُدُودِهِ، قَقُلْتُمْ : نُحِبُّ رَسُولَ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّم) وَلَم تَعْلَمُوا بِسُنَّتِهِ ، وَقُلْتُمْ : نَخْشَى الْمَوْتَ وَلَم تَستَعِدُّوا لهُ ، وَقَالَ تَعَالَى : {إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً (فاطِر : ٦)} فَوَاطَأْتُمُوهُ عَلَى الْمَعَاصِي ، وَقُلتُمْ : نَخَافُ النَّارَ وَأَرهَقْتُهُمْ أَبْدَانَكُمْ فِيْهَا ، وَقُلْتُمْ : نُحِبُّ الجَنَّةَ وَلَم تَعْمَلُوا لَهاَ ، وَإِذَا قُمْتُم مِن فُرْشِكُم رَمَيْتُم عُوُبِكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُم وَافْتَرَشْتُم عُيُوبَ النَّاسِ أَمَامَكُمْ فَأَسخَطْتُمْ رَبَّكُمْ ، فَكَيفَ يَستَجِيبُ لَكُمْ ؟

Kalian mengetahui hak Allah tetapi kalian tidak melaksanakan hak-Nya, kalian membaca al-Qur’an tetapi kalian tidak mengamalkan hukum-hukumnya, kalian mengatakan cinta kepada Rasulullah SAW, tetapi kalian tidak mengamalkan sunnahnya, kalian mengatakan takut mati tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya; Allah berfirman {Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu) (Faathir:6)} tetapi kalian mendukungnya dalam bermaksiat, kalian mengatakan takut api neraka tapi kelian campakkan jasad kalian ke dalamnya, kalian mengatakan cinta surga tetapi kalian tidak berusaha untuk mendapatkannya, dan apabila kalian berdiri dari hamparan kalian, kalian melemparkan aib-aib kalian ke belakang punggung kalian dan kalian gelar aib-aib orang lain di hadapan kalian lalu dengan demikian kalian membuat Tuhan kalian murka, maka bagaimana mungkin Dia mengabulkan doa kalian?

*Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali

Tadabbur

Ada yang menghatamkan al-Qur’an dalam dua rakat[1],
ada yang menghatamkan dalam sehari,
ada pula yang menghatamkannya setiap tiga hari, setiap jumat, atau setiap bulan.

ada yang membaca al-Qur’an dan terhenti pada satu ayat, dan mengulangnya hingga fajar;
seorang bijak bestari berkata, “aku punya program menghatamkan al-Qur’an setiap jum’at, demikian pula setiap bulan dan tahun, tapi aku punya program khataman yang semenjak tiga puluh tahun yang lalu belum bisa aku tuntaskan”.[2]

Imam Ali kwj berkata: “Tidak ada kebaikan pada ibadah tanpa pemahaman di dalamnya, dan tidak ada kebaikan pada bacaan tanpa tadabbur di dalamnya”[2]

[1] Abdullah Ibn Mubarrak rahimahullah pernah menceritakan bahwa Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) rahimahullah terbiasa menghatamkan al-Qur’an dalam dua rakaat shalat malamnya.
[2] Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali

Tujuan Itu


يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾

alangkah indahnya ini, saat jiwa dalam ketenangan karena senantiasa berdzikir[1];
Tuhannya memanggilnya dan meridhainya, hingga hatinya merasa puas;
diapun tergolong dalam jamaah hamba-hamba-Nya;
Tuhan yang telah ridho terhadapnya pun memasukkannya ke dalam surga-Nya.
wajahnya pun berseri-seri, menatap Wajah Tuhannya[2].

Ya Allah masukkanlah aku ke dalam jamaah hamba-hamba-Mu yang Engkau ridhoi. aamiin

Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya; Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. al-Fajr[89]:27-30

[1] ar-Ra’d[13]:28
[2] al-Qiyamah[75]:22-23