I’rab al-Qur’an Surah ar-Rahman ayat 5-6

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ ﴿٥﴾ وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ ﴿٦


5. الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ [Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan] : jumlah ismiyah, الشَّمْسُ adalah mubtada’ begitu juga dengan الْقَمَرُ yang digabungkan dengan huruf ‘athaf وَ , tanda rofa’nya adalah dhommah. khobarnya dibuang, kita bisa menduga khobarnya adalah يَجْرِيَانِ (keduanya beredar) dan بِحُسْبَانٍ , namun ada pula yang menyebutkan khobarnya hanya بِحُسْبَانٍ jer majrur.Allah Yang Maha Pengasih, Menjalankan matahari dan rembulan sesuai dengan garis edarnya, salah satunya tidak mengacaukan peredaran yang lainnya, semuanya dihitung dengan perhitungan yang sangat cermat.

6. وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ [dan tumbuh-tumbuhan dan pohon, keduanya tunduk kepada-Nya]; I’rab ayat ini serupa dengan ayat 5, karena ma’thuf yang terhubung dengan wawu athaf. وَالنَّجْمُ terdiri dari wawu athaf dan النَّجْمُ adalah mubtada’ dan disambung dengan الشَّجَرُ dengan wawu athaf, keduanya rafa’ dengan tanda dhommah. يَسْجُدَانِ merupakan khobarnya, ia merupakan fi’il mudhari’ yang marfu’ dengan tanda berupa alif – dhomir tatsniyah muttasil – dan nun . Kata النَّجْمُ menurut sebagian ulama berarti tumbuh-tumbuhan tak berbatang seperti palawija, sedangkan ulama yang lain, seperti Ibnu Katsir berpendapat, kata tersebut berarti bintang di langit (jamak dari النُجُومُ / bintang di langit). Adapun الشَّجَرُ adalah pohon yang berbatang. يَسْجُدَانِ Keduanya bersujud/tunduk kepada Allah, terhadap fitrah penciptaan yang dikehendaki-Nya.


Iklan

Doa untuk orang tua

Ya Allah, bacaan apa pun yang kami baca dan Engkau sucikan, shalat apa pun yang kami dirikan dan Engkau terima, zakat dan sedekah apapun yang kami keluarkan dan Engkau sucikan dan kembangkan, amal shalih apa pun yang kami kerjakan dan Engkau ridhai, maka mohon kiranya ganjaran ayah dan ibu kami lebih besar dari ganjaran yang Engkau anugrahkan kepada kami.

Bagian mereka hendaknya lebih banyak dari yang Engkau limpahkan kepada kami, serta perolehan mereka lebih berlipat ganda dari perolehan kami, karena Engkau, ya Allah, telah berwasiat kepada kami agar berbakti kepada mereka, dan memerintahkan kami mensyukuri mereka, sedangkan Engkau lebih utama berbuat kebajikan dari semua makhluk yang berbuat kebajikan, serta lebih wajar untuk memberi daripada siapa pun yang diperintah memberi.
di ajarkan oleh al-Syaikh al-Imam al-‘Arif billah Muhammad bin Ahmad al-Hadhrami, di ambil dari buku Secercah Cahaya Illahi, karya prof. Quraish Shihab.

Ihtibak dalam al-Qur’an

Redaksi al-Qur’an pada umumnya cenderung singkat. Namun demikian, ayat-ayat tersebut memiliki makna yang luas lagi dalam. Bahasanya demikian memesonakan, redaksinya yang demikian teliti, dan mutiara pesan-pesannya yang begitu agung, telah mampu mengantar masyarakat yang ditemuinya berdecak kagum, walau nalar sebagian mereka menolaknya. Terhadap orang-orang yang menolak kebenarannya inilah al-Qur’an tampil sebagai mu’jizat, sedangkan fungsinya sebagai hudan ditujukan kepada seluruh manusia, meskipun yang mampu memfungsikannya dengan baik hanyalah orang-orang yang bertakwa.

Dalam ilmu bahasa arab, dikenal istilah ihtibak, yaitu tidak menyebut satu kata atau kalimat karena telah ada kata atau kalimat lain dalam susunan kalimat yang mengisyaratkan kata atau kalimat yang tidak disebut itu. Dalam syarh badi’iyah, al-Andalusiy mendefinisikan ihtibak, yang merupakan salah satu dari jenis badi‘, sebagai membuang satu kata pada kalimat pertama yang telah disebutkan lawan katanya pada kalimat kedua (bagian kalimat sesudahnya), atau membuangnya dari kalimat kedua, yang kalimat tersebut telah disebutkan lawan katanya pada kalimat pertama (bagian kalimat sebelumnya).

Dalam al-Qur’an, ihtibak sangat banyak, hal ini tidak mengherankan karena keumuman redaksi al-Qur’an yang ringkas namun luas maknanya. Contohnya:

  1. surah al-‘Alaq ayat 4-5 ;الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.pada ayat ke-4 disebutkan bagaimana Allah SWT mengajar manusia dengan sarana qalam (pena) yaitu terhadap hal-hal yang telah diketahui oleh manusia, dan pada ayat selanjutnya, Allah SWT mengajarkan manusia, dengan tanpa pena, terhadap hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya.
  2. Surah ali-Imran ayat 14:زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَDijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita dan anak-anak lelaki.Meski tidak disebutkan secara langsung dalam redaksinya, kecintaan kepada lelaki (bagi wanita) dan anak-anak perempuan; ayat ini tidak berarti tidak dicintakan kepada manusia, yaitu kecintaan kepada lelaki dan anak-anak perempuan.
  3. Surah al-Naml ayat 12 :وَأَدْخِلْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَdan masukkanlah tanganmu (yang tidak berwarna putih/bersinar) ke leher bajumu, niscaya ia akan keluar putih (bersinar). Keterangan bahwa tangan yang dimasukkan tidak bersinar diringkas dan dihilangkan sebab di akhir kalimat dijelaskan tangan yang bersinar setelah dikeluarkan dari leher baju (tidak mungkin kondisi awal sebelum dimasukkan leher baju sama dengan kondisi setelahnya).
  4. Dalam surah Ghaafir/al-Mu’min ayat 61:اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا Allahlah yang menjadikan malam untuk kamu (gelap) supaya kamu beristirahat padanya, dan menjadikan siang terang benderang (supaya kamu bekerja ketika itu).Kata gelap tidak disebutkan pada awal kalimat, karena kata benderang telah disebutkan di akhir kalimat; begitu juga keterangan agar supaya bekerja di waktu siang tidak disebutkan karena telah disebutkan malam sebagai waktu untuk beristirahat.

Subhanallah.

Rasa bahasa ini, keindahan redaksi al-Qur’an ini tentu tidak dapat kita rasai jika kita hanya mengenal terjemah al-Qur’an hanya melalui kamus semata. oleh karena itu, nampaknya yang hanya berusaha mengenal bahasa al-Qur’an hanya semata dari kamus, akan sulit menangkap keindahan bahasa al-Qur’an; lebih-lebih kita orang yang masih awam dalam bahasa arab; nampaknya hanya dapat merasai keindahan al-Qur’an dari para qari atau imam bersuara merdu, dan bisa jadi meneteskan air mata karena “rasa” suara para qari’ tersebut, bukan karena kefahaman akan pesan-pesan Allah SWT di dalam kalam-Nya. astaghfirullah…

Syair

Saya menyukai syair, meski tak pandai menggubahnya.
kulihat yang berhati lembut itu pada umumnya bersyair.

para ulama bersyair; saat kecil, saya belajar berbagai ilmu dengan menghafal syair, aqidah, akhlak, bahasa (nahwu) atau tajwid al-Qur’an karangan para ulama nusantara atau terjemahan dari para ulama dunia.
syeikh Ali Thanthawi rahimahullah menulis sebuah buku min ghazlil fuqaha ,
saat beliau ditanya,

!أَنتَ شيخ وَأَنتَ قاض ، وَليس يَليق بالشيوخ وَلقضاة أن يَتَكلموا في الحب، أويعرضوا لِلغزل ؟
“engkau seorang syeikh, engkau seorang qadhi, tidak pantas seorang syeikh dan qadhi untuk berbicara tentang cinta atapun menggubah ghazal ?!”

syeikh Ali Tantawi tertawa dan menjawab:
apakah engkau belum pernah bangun dini hari dan merasakan semilir angin malam yang membelai? dan dengan keheningannya yang bersyair ? keindahan yang mempesona, sehingga engkau kehabisan kata untuk menggambarkannya ?
apakah engkau belum pernah mendengar di kesenyapan malam, senandung merdu dari penyair yang bersyair dari lubuk kalbunya hingga hatimu tergetar?
apakah sama sekali kau belum mendengar kisah-kisah cinta dan berita tentang tokoh-tokohnya yang membuat seolah-olah saraf-sarafmu dialiri api? bersyair adalah adat manusia berhati.

asy-Syafi’i rahimahullah, yang Imam Madzhab itu, bersyair hingga terkumpul antologi (diwan) Imam Syafi’i.
Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah juga bersyair, hingga terkumpul diwan Ali bin Abi Thalib,

Rasulullah SAW, panutan kita, meski dalam surah Yasin disebutkan tidak diajar oleh Tuhannya bersyair;
beliau bersyair saat perang khandaq, dengan syair Abdullah bin Rawahah ra[1]:
اللَّهُمَّ لَوْ لاَ أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا وَلاَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا وَثَبَّتِ اْلأَقْدَامَ إِنْ لاَقَيْنَا إِنَّ اْلأَعْدَاءَ قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا يَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ

Ya Allah kalau bukan karena Engkau niscaya kami tidak mendapat petunjuk Tidak bersedekah dan tidak pula shalat Maka turunkanlah ketenangan atas kami Dan kokohkan kaki kami ketika bertemu (musuh) Sesungguhnya musuh-musuh telah mendzalimi kami Bila mereka menginginkan fitnah, tentu kami menolaknya

ketika para sahabat dari kaum Anshar dan Muhajirin mensenandungkan syair saat menggali parit dan memindahkan tanda dari tempatnya:

نحن الذين بايعوا محمدا     على الإسلام ما بقينا أبدا

Kamilah yang telah membai’at nabi Muhammad

Sehingga Islam menjadi keyakinan kami selamanya

jawab nabi SAW, dengan syair


إِنَّ الْخَيْرَ خَيْرُ الآخِرَةِ أَوْ قَالَ اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُ الآخِرَهْ فَاغْفِرْ لِلْاَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَة

“Sesungguhnya kebaikan itu adalah kebaikan akhirat, atau dalam ungkapan lain : Sesungguhnya tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, Ya Allah ampunilah kaum muhajirin dan anshar”

Firman-Nya

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا

kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. [asy-syu’araa:227]

sulit membayangkan seorang yang tak memiliki kelembutan hati bersyair; para penyair menulis syair tentang cinta, dan cinta tidaklah hinggap di hati yang penuh kebencian dan kedengkian.

pernah kudengar seorang ulama[2] berkata: ajarilah anak-anakmu syair, agar hatinya menjadi lembut.

[1] http://nabilmufti.wordpress.com/2010/03/04/perang-khandaq-ahzab-perang-parit/
[2] jika tidak salah ingat beliau adalah Hamka, yang mengutip dari ulama/shabat.

Doa

اللَهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيْم

ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah banyak menganiaya diriku sendiri, dan tidak ada yang mampu mengampuni selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu serta kasihilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Pengasih.

Peluang

Yang mengherankan kulihat dalam diriku, adalah bertambahnya kelalaian atas apa yang ada dalam genggamanku;
meskipun setiap jiwa tahu betapa pendeknya kehidupan ini, meskipun setiap jiwa sadar bahwa banyaknya balasan dari Allah di hari kemudian bergantung pada amal shalih apa yang diusahakannya disini, saat ini.

Hai jiwa, hai yang hidupnya tak lama, manfaatkanlah masa yang engkau miliki, dan bersabarlah hingga masa dimana setiap jiwa terbang kembali; waspadalah dari menyibukkan hati akan amal yang dianya tidak diciptakan untuk itu.

Latihlah jiwa untuk memikul beban dimasa sulit dan jinakkan dia jika menolak. jangan biarkan dia bebas liar terlalu lama, karena sesungguhnya dirimu ada dalam padang-Nya.

sungguh, kehinaan adalah dia yang tahu berada antara dua tempat namun jiwanya memikirkan selainnya.