Syair

Saya menyukai syair, meski tak pandai menggubahnya.
kulihat yang berhati lembut itu pada umumnya bersyair.

para ulama bersyair; saat kecil, saya belajar berbagai ilmu dengan menghafal syair, aqidah, akhlak, bahasa (nahwu) atau tajwid al-Qur’an karangan para ulama nusantara atau terjemahan dari para ulama dunia.
syeikh Ali Thanthawi rahimahullah menulis sebuah buku min ghazlil fuqaha ,
saat beliau ditanya,

!أَنتَ شيخ وَأَنتَ قاض ، وَليس يَليق بالشيوخ وَلقضاة أن يَتَكلموا في الحب، أويعرضوا لِلغزل ؟
“engkau seorang syeikh, engkau seorang qadhi, tidak pantas seorang syeikh dan qadhi untuk berbicara tentang cinta atapun menggubah ghazal ?!”

syeikh Ali Tantawi tertawa dan menjawab:
apakah engkau belum pernah bangun dini hari dan merasakan semilir angin malam yang membelai? dan dengan keheningannya yang bersyair ? keindahan yang mempesona, sehingga engkau kehabisan kata untuk menggambarkannya ?
apakah engkau belum pernah mendengar di kesenyapan malam, senandung merdu dari penyair yang bersyair dari lubuk kalbunya hingga hatimu tergetar?
apakah sama sekali kau belum mendengar kisah-kisah cinta dan berita tentang tokoh-tokohnya yang membuat seolah-olah saraf-sarafmu dialiri api? bersyair adalah adat manusia berhati.

asy-Syafi’i rahimahullah, yang Imam Madzhab itu, bersyair hingga terkumpul antologi (diwan) Imam Syafi’i.
Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah juga bersyair, hingga terkumpul diwan Ali bin Abi Thalib,

Rasulullah SAW, panutan kita, meski dalam surah Yasin disebutkan tidak diajar oleh Tuhannya bersyair;
beliau bersyair saat perang khandaq, dengan syair Abdullah bin Rawahah ra[1]:
اللَّهُمَّ لَوْ لاَ أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا وَلاَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا وَثَبَّتِ اْلأَقْدَامَ إِنْ لاَقَيْنَا إِنَّ اْلأَعْدَاءَ قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا يَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ

Ya Allah kalau bukan karena Engkau niscaya kami tidak mendapat petunjuk Tidak bersedekah dan tidak pula shalat Maka turunkanlah ketenangan atas kami Dan kokohkan kaki kami ketika bertemu (musuh) Sesungguhnya musuh-musuh telah mendzalimi kami Bila mereka menginginkan fitnah, tentu kami menolaknya

ketika para sahabat dari kaum Anshar dan Muhajirin mensenandungkan syair saat menggali parit dan memindahkan tanda dari tempatnya:

نحن الذين بايعوا محمدا     على الإسلام ما بقينا أبدا

Kamilah yang telah membai’at nabi Muhammad

Sehingga Islam menjadi keyakinan kami selamanya

jawab nabi SAW, dengan syair


إِنَّ الْخَيْرَ خَيْرُ الآخِرَةِ أَوْ قَالَ اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُ الآخِرَهْ فَاغْفِرْ لِلْاَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَة

“Sesungguhnya kebaikan itu adalah kebaikan akhirat, atau dalam ungkapan lain : Sesungguhnya tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, Ya Allah ampunilah kaum muhajirin dan anshar”

Firman-Nya

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا

kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. [asy-syu’araa:227]

sulit membayangkan seorang yang tak memiliki kelembutan hati bersyair; para penyair menulis syair tentang cinta, dan cinta tidaklah hinggap di hati yang penuh kebencian dan kedengkian.

pernah kudengar seorang ulama[2] berkata: ajarilah anak-anakmu syair, agar hatinya menjadi lembut.

[1] http://nabilmufti.wordpress.com/2010/03/04/perang-khandaq-ahzab-perang-parit/
[2] jika tidak salah ingat beliau adalah Hamka, yang mengutip dari ulama/shabat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s