Lima Obat Hati

As-Sayyid Ibrahim al-Khawaash r.a., berkata, obat hati itu ada lima, yaitu:

  1. Membaca Al-Qur’an diiringi tadabbur
  2. Mengosongkan perut
  3. Shalat Malam
  4. Berdzikir pada waktu sahur
  5. Bergaul dengan orang-orang shalih

sumber: al-adzkar an-nawawiyah

Iklan

Menyangka telah banyak beramal, Tapi…

Selama Ramadhan yang lalu, salah satu hal yang mejadi pelajaran penting bagi saya adalah terkadang ada yang menyangka dirinya telah banyak beramal, tapi ternyata amalnya sia-sia belaka. Ayat al-Qur’an surah al-Kahfi[18]: 104-105 ini senantiasa terngiang di kepala dan benak saya hingga saya menuliskannya di sini:

 

 قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَـٰلًا ﴿١٠٣﴾ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَو‌ٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ﴿١٠٤﴾ 

 

( 103 ) Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”
( 104 ) Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
Ayat-ayat ini menegur penulis, untuk introspeksi diri, apakah benar amal-amal yang telah dikerjakan selama ini sudah benar, dan diterima oleh Allah SWT? ataukah saya termasuk yang disebutkan “orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”.
Bukankah amal yang diterima, akan membuahkan amal-amal yang lain? Bagaimana dengan kualitas amal di bulan syawal ini, apakah benar-benar syawal (meningkat) ataukah malah sebaliknya? Astaghfirullahaladziim.*

 

* Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang paling merugi perbuatannya dalam ayat 103 tersebut menurut Sa’ad bin Abi Waqash ra. adalah kaum Yahudi dan Nasrani;.
Sedangkan menurut Ali bin Abi Thalib Kwj. adalah kelompok Haruriyah (khawarij). Akan tetapi, bukankah kita senantiasa diingatkan, bacalah al-Qur’an seakan-akan dia turun kepadamu.

Ramadhan Hari Ke-1: Keteraturan

Alhamdulillah, Ramadhan telah datang, Alhamdulillah, sujud syukur atas karunianya yang mengizinkan umur sampai pada bulan Ramadhan.
Ramadhan ini, bagi saya sangat istimewa. Setelah ruhiyah yang begitu kering karena sedikitnya amal ibadah dan banyaknya dosa, Allah Yang Maha Pengasih memberi kesempatan umur untuk bertemu dengan Ramadhan, untuk bertaubat kembali kepada-Nya.
Momen Ramadhan ini ingin saya pergunakan untuk memperbaiki kembali ritme hidup yang sudah tidak teratur menjadi lebih teratur, lebih disiplin dalam memanfaatkan waktu dan istiqomah. Saat ini banyak aktivitas harian yang tidak teratur, tilawah yang tidak ajeg, shalat yang tidak selalu diawal waktu, sedekah yang sering terlupa, menulis yang jarang dilakukan, membaca yang sedikit, ibadah-ibadah sunnah yang disiakan.
Semoga mulai saat ini hingga ajal menjemput, menjadi pribadi yang teratur, istiqamah dalam kebaikan, semoga dengan demikain, atas kasih sayang-Nya, kelak kembali kepada-Nya dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Aamiin.

100 KM

Kemarin terlibat percakapan dengan teman yang sehari menempuh tak kurang dari 26 km pulang pergi dari tempat tinggal-nya hingga kantor di Kuningan. Sehingga dalam waktu 4 hari jarak tempuh yang dia lalui sudah lebih dari 100 km. Secara reflek saya lumayan terkejut, karena panjangnya jarak tempuh itu, belum lagi waktu yang digunakan mengingat jalanan di Jakarta yang sering macet.

Kemudian saya befikir, berapa jarak tempuh harian yang saya habiskan. Ternyata setelah saya hitung, sehari saya berkendara tak kurang dari 28 km. Artinya dalam 4 hari saya telah menempuh 112 km. Bukan karena semata jarak rumah ke kantor yang jauh, karena jarak ke kantor hingga ke rumah hanya 7 km saja, tapi karena hampir setiap hari pulang pergi mengantar dan menjemput anak dari sekolah. Belum lagi setiap hari hari selasa melakukan perjalan Bandung – Jakarta PP, total waktu di jalan lebih lama lagi.

Biasanya rute harian di saat berada di Bandung adalah: Rumah -> Sekolah Anak -> Kantor -> Sekolah Anak (menjemput) -> Rumah -> Kantor -> Rumah.

Waktu yang banyak dihabiskan di Jalan tentunya punya risiko, risiko waktu yang tersia (karena hati yang tidak berdzikir) dan juga risiko jika terjadi musibah (a’udzubillah min dzaalik).

Semoga setiap jengkal perjalanan tercatat menjadi amal shalih yang menghantarkan ke surga. Aamiin

 

gambar ilustrasi dari wikipedia, jalan yang setiap ke/dari kantor saya lewati.

A Good Tree

Have you not considered how Allah presents an example, [making] a good word like a good tree, whose root is firmly fixed and its branches [high] in the sky?

It produces its fruit all the time, by permission of its Lord. And Allah presents examples for the people that perhaps they will be reminded.

Translation of al-Qur’an surah Ibrahim verse 24-25

b1wh6p5ccaafj0i

 

Barakah

Barakah berarti kebajikan yang melimpah dan beraneka ragam serta bersinambung. Ar-Raghib al-Ashfahani, Abu al-Qasim al-Husain ibn Mufaddal ibn Muhammad, menyebutkan bahwa keberkahan Ilahi datang dari arah yang sering kali tidak diduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dapat dibatasi atau bahkan diukur. Sehingga, segala penambahan yang tidak terukur oleh indra dinamai barakah/berkah.

Keberkahan waktu adalah banyaknya kebajikan yang dapat terlaksana dalam satu waktu dan biasanya banyaknya aktivitas kebajikan tersebut tidak dapat terlaksana dalam rentang waktu tersebut. Jika dalam sehari tidak banyak kebajikan yang dikerjakan, artinya waktu yang dimiliki tidaklah berkah.

Apakah harimu berkah hari ini?